Tampilkan postingan dengan label Chem-is-try. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chem-is-try. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juni 2010

Kimia MIPA vs. Teknik Kimia, Yang Mana?

Ditulis oleh Antonius Suryatenggara pada 23-03-2006 Saya seorang pelajar yang berminat pada bidang kimia namun bingung menentukan pilihan untuk kuliah kimia MIPA atau teknik kimia. Mohon rekan-rekan milis dapat membantu saya menentukan pilihan. Demikian potongan sebuah mail yang muncul di milis kimia_indonesia. Rasanya, banyak pelajar SMU yang lain yang juga bingung tentang hal ini. Apa kamu salah satunya? Mari kita bandingkan kedua jurusan ini dari dua sisi, yaitu ilmu yang dipelajari dan pekerjaan setelah lulus kuliah. APA YANG DIPELAJARI? Mari kita mulai dulu dengan definisi ilmu kimia dan teknik kimia. Ilmu kimia (chemistry) adalah ilmu yang menyelidiki sifat dan struktur zat, serta interaksi antara materi-materi penyusun zat. Teknik kimia (chemical engineering) adalah ilmu yang mempelajari rekayasa untuk menghasilkan sesuatu (produk) yang bisa digunakan untuk keperluan manusia, berlandaskan pengetahuan ilmu kimia. Dari definisi ini, ada tiga poin yang akan kita lihat. ”Poin 1: Sifat: Eksplorasi vs. Aplikasi” Salah satu kegiatan dalam ilmu kimia adalah mencari zat atau reaksi baru. Sementara itu, teknik kimia tidak berupaya mengembangkan zat, struktur, atau reaksi baru, tetapi ia mengaplikasikan dan mengembangkan yang sudah ada. Perlu dicatat, walaupun teknik kimia tidak mencari sesuatu yang baru dari sisi kimia, namun ia mencari sesuatu yang baru dari sisi teknik produksi. ”Poin 2: Orientasi: Ilmu Pengetahuan vs. Industri” Misalkan ada sebuah reaksi yang ditemukan sebagai berikut. A + B –> C + D Hasil reaksi terbentuk dengan perbandingan C sebanyak 70% dan D 30%. Dari hasil reaksi ini, produk yang berguna adalah D. Terhadap reaksi ini, bidang ilmu kimia dan teknik kimia akan bersikap berbeda. Ilmuwan kimia akan berupaya merekayasa reaksi A + B tersebut agar menghasilkan D dengan persentase yang lebih besar lagi. Upaya tersebut dilakukan dengan berusaha mengetahui lebih detail tentang apa yang mempengaruhi reaksi A + B, sampai ke tingkat molekular bahkan sampai ke tingkat atom. Orang teknik kimia akan mencari cara untuk mengoptimalkan proses reaksi tersebut agar dihasilkan produk D yang ekonomis, yaitu yang biaya produksinya paling murah. Mereka akan mempelajari proses mana yang harus dipilih; alat untuk mengatur suhu dan tekanan reaksi; alat untuk mempersiapkan bahan bakunya; alat untuk memurnikan produk; dan lain-lain. ”Poin 3: Target Skala: Kecil vs. Raksasa” Ilmu kimia mempelajari reaksi dengan melakukannya pada skala kecil di lingkungan laboratorium, misalnya dalam hitungan gram saja. Sementara teknik kimia mempelajari reaksi untuk dilakukan pada skala besar, misalnya dalam hitungan ton. Ini karena hasil penelitian teknik kimia akan diterapkan pada bidang industri. PEKERJAAN SETELAH LULUS Salah satu yang membuat kita bimbang waktu memilih jurusan adalah tentang pekerjaan setelah kita lulus kuliah nanti. Apa ada lowongan pekerjaan untuk lulusan ilmu kimia? Bidangnya seperti apa? Kalau untuk teknik kimia? Lulusan ilmu kimia bisa bekerja misalnya di laboratorium, di bidang pendidikan sebagai guru atau dosen, atau di bagian Kendali Mutu (Quality Control) di pabrik. Lulusan teknik kimia biasa bekerja di pabrik yang memproduksi barang-barang melalui proses kimia, misalnya di pabrik semen, pupuk, kilang minyak, dan sebagainya. Tetapi, apakah lulusan ilmu kimia tidak bisa bekerja di bidang "milik" orang teknik kimia, dan sebaliknya? Tidak ada masalah. Kedua ilmu ini punya pijakan yang sama yaitu kimia. Lulusan ilmu kimia bisa saja bekerja di Bagian Produksi, dan lulusan teknik kimia bisa saja bekerja di laboratorium. Hanya saja, setelah bekerja mereka perlu belajar lebih keras dibanding kalau mereka memilih jalur pekerjaan yang "normal". Namun kalau mau belajar, ini bukan hal yang mustahil. Timbul pertanyaan, kalau kita mengambil pekerjaan yang "tidak sesuai" dengan kuliah kita, bukankah ilmu kita sia-sia? Tidak juga. Toh waktu berkuliah kita akan belajar bagaimana memecahkan masalah secara sistematis, bagaimana berpikir dengan logis, bagaimana menghadapi bermacam-macam orang, dan bagaimana berdiplomasi. Ini semuanya adalah ilmu yang sangat penting dalam pekerjaan dan berlaku secara universal, tidak bergantung pada apa jenis pekerjaannya. Di milis kimia_indonesia ada beberapa rekan kita yang bekerja pada bidang yang "tidak semestinya". Simak cerita mereka. "Saya seorang teknik kimia, sekarang bekerja di bagian Lab. Mikrobiologi. Sekarang saya harus banyak lagi mempelajari hal-hal baru dan harus menyesuaikan dulu dengan pekerjaan yang nantinya akan saya hadapi." Ikhsan Guswenrivo "Saya sendiri dari kimia murni baik S1 maupun S2. Bahkan SMA-pun dari analis kimia. Tapi saya pernah bekerja di lab dan Bagian Produksi. Memang pada kenyataannya untuk orang kimia murni pada saat bekerja di bagian produksi kita harus banyak buka-buka dulu buku wajibnya orang teknik kimia seperti "Perry’s Chemical Engineers Handbook" dan "Basic Thermodynamics". Begitu juga orang teknik kimia kalau ditempatkan bekerja di lab harus buka-buka buku wajibnya orang kimia murni. Karena sebetulnya antara orang kimia dan teknik kimia sama-sama punya basis kimia yang kuat, masing-masing menjadi mudah untuk mempelajarinya. Di bagian Lab maupun Produksi saya menempatkan baik orang kimia murni maupun orang teknik kimia sehingga saling melengkapi. Alhasil kita punya tim yang solid antara produksi dan lab." Miftahudin Maksum PT. Universal Laboratory Tj.Uncang Batam (*) "Saya S1 di kimia MIPA, penelitian saya tentang polimer. Sekarang saya di graduate school, biarpun tetap di bidang kimia, topik penelitiannya beda sekali. Saya harus belajar tentang neuron cell culture, tentang biomaterial, dan lain-lain (research saya tentang surface modification for retinal and cortical implant)" Paulin Wahjudi University of Southern California Department of Chemistry (*) PENUTUP Setelah membaca tulisan ini, moga-moga sekarang kamu sudah lebih mantap untuk menentukan pilihan jurusanmu. Saat sudah masuk kuliah nanti, jangan lupa untuk tetap membuka mata dan pikiran terhadap perkembangan teknologi. Pada saat ini, banyak topik penelitian yang berupa penelitian antarbidang ilmu. Kita tidak cukup hanya mengerti kimia MIPA ataupun teknik kimia saja, tetapi juga belajar lagi entah tentang elektro, biologi, dan sebagainya. Selamat memilih jurusan dan belajar! Catatan: * Tulisan ini adalah rangkuman dari diskusi di milis kimia_indonesia bulan Februari-Maret 2005. * Data afiliasi rekan-rekan di atas adalah berdasarkan data pada bulan Maret 2005.

Retaknya Cangkang Telur pada Proses Perebusan

Ditulis oleh Harry Budiman pada 23-06-2010

Tentunya semua sudah kenal dengan jenis makanan yang satu ini, telur, merupakan makanan kaya akan protein yang hampir sering disajikan setiap kali sarapan pagi. Banyak cara dilakukan oleh orang untuk mengolah telur menjadi suatu makanan diantaranya direbus, digoreng bahkan adapula yang memakannya mentah-mentah seperti yang dilakukan oleh para atlet binaraga. Namun pernahkan di perhatikan, ketika kita merebus telur,kadang telur rebus yang dihasilkan sempurna, adapula telur yang mengalami retak pada cangkangnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sebenarnya fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah.

Apabila kita mengingat-ingat pelajaran Biologi yang diberikan di sekolah menengah pertama, telur tidak hanya tersusun dari kuning telur, putih telur dan kulit telur namun ada beberapa bagian lain, seperti yang terlihat ada gambar di bawah

. Struktur Telur.

Menarik untuk dicermati bagian cangkang dan ruang udara pada gambar di atas untuk menjelaskan fenomena retaknya cangkang telur ini. Bagian cangkang telur ini sebenarnya bukanlah sistem tertutup seperti yang kita bayangkan, namun cangkang telur ini terdiri dari ribuan pori-pori sangat kecil yang memungkinkan karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) keluar dari telur setiap saat dan udara yang kaya akan oksigen (O2) masuk ke dalam telur. Maka dari itu, telur dapat dikatakan bernapas demi menunjang pertumbuhan keping germinal menjadi embrio dan selanjutnya terus berkembang menjadi mahluk hidup (telur menetas). Dengan bertambahnya umur telur, maka ukuran ruang udara akan bertambah besar.

Selama merebus telur, volume ruang udara di dalam telur bertambah seiring dengan meningkatnya suhu. Jika proses perebusan berlangsung terlalu cepat, udara yang terus berkembang volumenya di dalam telur tidak mempunyai cukup waktu untuk keluar dari telur melalui pori-pori cangkang, akibatnya cangkang telur akan mengalami retak. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui hukum gas Charles. Hukum gas Charles menyatakan bahwa gas ideal pada tekanan konstan, volume gas akan berbanding lurus dengan suhu absolutnya (dalam Kelvin), dengan kata lain volume gas akan bertambah jika suhu meningkat, begitu juga sebaliknya, seperti yang terlihat pada ilustrasi di bawah.

Sumber gambar: www.zimbio.com/

Gambar 2. Deskripsi Hukum gas Charles.

Dimana V: volume gas (m3), T: suhu absolut (K), dan k2 :konstanta (m3.K-1)

Hubungan antara volume dan suhu pada gas ideal ini dikemukakan oleh ilmuwan fisika asal perancis, Jacques Charless (1787) dan diverifikasi pada tahun 1802 oleh ilmuwan kimia dari Perancis, Joseph Gay-Lussac. Hukum ini berlaku pula pada peristiwa meletusnya ban kendaraan bermotor yang dibiarkan tersengat oleh sinar matahari terus menerus. Panas matahari menyebabkan suhu ban menjadi naik dan mengakibatkan volume udara di dalam ban semakin bertambah.

Selain fenomena retaknya telur pada proses perebusan di atas, keberadaan ruang udara di dalam telur menyebabkan pula telur tetap mengapung apabila dimasukkan ke dalam suatu wadah berisi air. Ruang udara tersebut cukup untuk memberikan gaya keatas pada telur dan menjaga telur tetap terapung di dalam air.

Masih banyak fenomena alam dan kejadian di sekitar kita lainnya yang bisa dijelaskan dari sudut pandang ilmiah. Artikel ini kiranya dapat memberikan pencerahan pada kita semua mengenai hubungan sebab akibat yang terjadi disekeliling kita dan menambah rasa syukur pada maha pencipta.

Template by:

Free Blog Templates